spacer.png, 0 kB
Show Cart
Your Cart is currently empty.

Login






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Support

Yudhi
SMS: 08563869456
Fax: 0361 295759
Jl. lettu Wayan Sutha, Sukawati, Gianyar - Bali 80582
 
Bank Mandiri
No. Rek 145.00.0314691.3
a.n I Wayan Yudiarsa
Bank BCA
No. Rek 7730214841
 a.n I Wayan Yudiarsa

Who's Online

website memiliki 13 tamu online

Statistics

Pengguna: 302
Berita: 32
Link Web: 17
Total Kunjungan: 176945

spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Halaman Utama
Kerajinan Telur Ukir 'Made In Sidembunut'
Berita Bali
 
on 23-02-2008 09:17

Views : 2162    

Favoured : 105

Sidembunut, Kerajinan kayu ukir mungkin sudah merupakan suatu hal biasa. Gading yang diukir juga sudah banyak dijumpai. Di Dusun Sidembunut, Desa Cempaga, Kabupaten Bangli, seorang kakek-kakek menekuni satu jenis seni yang cukup langka, yakni seni mengukir telur.

Nengah Padet (75) merupakan salah satu contoh pria lanjut usia yang tetap kreatif di usia senja. Meski sudah terhitung renta, Padet tidak mau hanya berdiam diri dalam mengisi hari tuanya.

Di rumah sekaligus bengkel kerjanya di Dusun Sidembunut, Kabupaten Bangli, Bali, setiap harinya Padet berkutat dengan aktivitas mengukir telur. Dengan alat pahat khusus untuk telur, Nengah Padet tampak serius menggarap seni telur ukir, pesanan seorang pejabat yang juga kolektor seni di Pulau Bali.

Telur yang diukir Padet bukan sembarang telur, tapi telur burung Kasuari atau burung Unta yang berukuran lebih besar dari telur ayam atau bebek.

Telur-telur ini dibeli dari pemasok telur burung Kasuari atau Unta seharga Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per butirnya. Tak jarang, Padet mendapatkan telur langsung dari pemesan telur ukir yang datang ke rumahnya.

Untuk menyelesaikan satu ukiran telur burung Kasuari atau Unta bertema pewayangan, Padet membutuhkan waktu hingga 2 bulan. Waktu pengerjaan telur ukir ini relatif lama karena butuh kesabaran dan ketelitian yang tinggi.

Nengah Padet mulai menekuni seni ukir sejak zaman penjajahan Jepang. Awalnya ia belajar mengukir dengan menggunakan tempurung kelapa.

“Saya mulai pakai telur Kasuari atau Unta sejak jamannya Suharto. Susah Pak ngukir telur, kalau tidak hati-hati bisa pecah kena pahat,” kata Padet kepada Beritabali.com, belum lama ini.

Satu telur ukir Karya Nengah Padet dijual antara Rp 3,5 hingga Rp 10 juta rupiah. Harga jual ini berbeda-beda tergantung tingkat kesulitan ukiran dan juga pembelinya.

Sudah berbagai penghargaan diraih Padet, salah satunya penghargaan dari Gubernur Bali sebagai salah satu seniman tua yang berjasa bagi dunia seni di Bali.

Di usia senjanya, Padet boleh berbangga karena karyanya sudah dikoleksi para pecinta seni baik dari dalam maupun luar negeri. (dev)

 

Sumber: beritabali.com 

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

No rating

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
  Mathguard security question:
ERO         HU5      
O S    B    A     OEG
NB1   DEE   TWC      
  X    O      G   PWT
MDG         165      
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelumnya   Berikutnya >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB